Realisasi Produksi Mineral Indonesia di Bawah Target 2023 : Peluang?


Rabu, 2024-05-29


Menurut Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, realisasi produksi komoditas mineral dalam negeri tak mencapai target pada 2023.

Hal ini terjadi pada komoditas emas, perak, timah, dan nikel (nikel matte dan feronikel).
Sepanjang 2023 realisasi produksi emas Indonesia hanya 83 ton dari target 106 ton.
Kemudian produksi perak 348,6 ton dari target 489 ton, dan produksi timah 67,6 ribu ton dari target 70 ribu ton.

Selanjutnya ada nikel matte dengan produksi 71,4 ribu ton dari target 75 ribu ton, dan produksi feronikel 535,2 ribu ton dari target 628,9 ribu ton.

Sementara angka produksi komoditas mineral lainnya seperti katoda tembaga, nickel pig iron (NPI), chemical grade alumina (CGA), dan smelter grade alumina (SGA) belum dilaporkan.

"Mineral tersebut (yang belum dilaporkan) diproduksi oleh pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi (IUP OP) khusus untuk pengolahan dan pemurnian sesuai dengan UU Nomor 3 Tahun 2020," kata Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Suswanto dalam konferensi pers, Selasa (16/1/2024).

Ia menjelaskan, IUP OP khusus untuk pengolahan dan pemurnian itu menjadi kewenangan Kementerian Perindustrian.

Adapun Ditjen Minerba belum menetapkan target produksi mineral 2024, karena masih merekap data rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan tambang terkait.

Editor : Adi Ahdiat
Sumber: databoks.katadata.co.id

Berita Lainnya

Staf Khusus Presiden Sebut Negara-negara di Global North Berkontribusi 92% Emisi Global



ASM Ajak Menilik Potensi Investasi Industri Nikel



Pajak Progresif Nikel Mengancam Keberadaan Hilirisasi



Pergerakan Ekonomi Nasional Melalui Hilirisasi Nikel



Baru 26% RKAB Mineral Disetujui, Ini Rencana Produksi Nikel, Emas Dkk



Nikel, Emas, dan Tembaga, Tiga Komoditas Mineral Andalan Indonesia di Pasar Global



7 Pulau yang Menyimpan Cadangan Emas Terbesar di Indonesia



Pabrik Nikel Menjamur, Investasi di 2023 lalu Tembus Rp39 Triliun



Realisasi Produksi Mineral Indonesia di Bawah Target 2023 : Peluang?



Realisasi Investasi ESDM 2023, Smelter Nikel Capai US$2.676,4 Juta



Industri Logam Dasar Tumbuh Pesat 14,17%, Ada Andil Permintaan dari China?



Menteri ESDM: Aturan Relaksasi Ekspor Mineral Mentah Sedang Disiapkan



Pemanfaatan Nikel 2040 Diprediksi Masih Didominasi Baja Anti Karat



Gak Cuma China, Ini Negara Penikmat Produk Nikel RI



Pemanfaatan Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinilai Masih Rendah



7 Aspek Penting untuk Keberlanjutan Industri Nikel di Indonesia



Organisasi Nikel Internasional Bujuk Indonesia Bergabung Kembali



Penggunaan Limbah Slag Nikel Sebagai Material Konstruksi Jalan Ramah Lingkungan



Dampak Kerja Sama Investasi Nikel Indonesia-China Terhadap Pertumbuhan Ekonomi



Pengaruh Suhu dan Konsentrasi Terhadap Pemisahan Nikel dari Logam Pengotor Menggunakan Metode Leaching



Penelitian Baterai Nikel dan Hubungan Bilateral Indonesia-Korea di Bidang Industri, Perdagangan, dan Transisi Energi



Mengamankan Masa Depan Industri Nikel, Pentingnya Moratorium Pembangunan Smelter di Indonesia



Pengenalan Metode Biooksidasi untuk Pengolahan Bijih Emas



Nikel Pilar Utama Dalam Industri Baterai Kendaraan Listrik dan Masa Depan Energi Bersih



Potensi Terak Nikel sebagai Agregat Beton



Keunggulan Daya Saing Nikel Indonesia di Pasar Internasional



Potensi dan Pengembangan Industri Berbasis Unsur Tanah Jarang di Indonesia



Optimasi Proses Hidrometalurgi untuk Mineral Emas Porfiri dan Sulfida Rendah



Efektivitas Carsul dalam Menurunkan Konsentrasi Chrome Hexavalent pada Limbah Tambang Nikel



Efektivitas Carsul dalam Menurunkan Konsentrasi Chrome Hexavalent pada Limbah Tambang Nikel